Milan - Inter Milan harus menunggu sampai injury time untuk bisa menang atas Siena. Jose Mourinho pun menyebut bahwa secara permainan timnya memang kalah segala-galanya dalam laga tersebut.
Pada pertandingan yang dihelat di Stadion Giuseppe Meazza, Minggu (10/1/2010) dinihari WIB, tersebut Inter sempat dibuat kerepotan oleh sang tamu. Siena sempat unggul 3-2 sampai menit 88.
Namun pada akhirnya Wesley Sneijder dan Walter Samuel menyumbang masing-masing satu gol pada menit 88 dan 93. Inter pun menyudahi pertandingan itu dengan kemenangan 4-3.
Mourinho langsung mengakui bahwa Siena lebih baik dari timnya dalam laga itu. Tim yang masih berada di posisi terbawah klasemen itu disebutnya unggul dalam urusan teknik, mobilitas dan kecepatan. Inter bisa disebut beruntung dalam pertandingan ini? Bisa jadi.
"Secara teknik kami kalah, secara taktik kami juga kesulitan. Siena lebih baik daripada kami," ujar Mourinho seperti dilansir Reuters.
"Mereka lebih tenang, punya mobilitas, kecepatan, mereka juga bagus dalam serangan balik. Mereka tak layak untuk kalah," lanjutnya.
Apa pun, kemenangan ini telah membuat Inter makin kokoh di puncak klasemen. Sementara, dua tim di bawah mereka, Juventus dan AC Milan akan saling baku hantam hari Minggu ini.
Inter Kalah Segala-galanya dari Siena
Jelang Tenerife vs Barcelona Pedrito Enggan Merayakan

Barcelona - Barcelona berambisi meraih kemenangannya yang pertama di tahun 2010 saat menghadapi Tenerife. Meski begitu, Pedro tidak akan melakukan selebrasi seandainya ia mencetak gol di laga itu. Kenapa?
Barcelona yang sukses dalam memborong enam trofi sepanjang 2009 mengalami sedikit hambatan di awal tahun ini. Pasca pergantian tahun, La Blaugrana malah gagal memenangi dua pertandingannya saat ditahan 1-1 Villarreal di La Liga dan ditekuk 1-2 oleh Sevilla di semifinal Copa del Rey..
Fakta di atas jelas merupakan suatu kemunduran yang dialami klub Catalunya ini mengingat statusnya sebagai 'raja' pada 2009 silam. Oleh karena itu, Barca bertekad untuk meraup angka penuh kala menghadapi Tenerife dalam lanjutan kompetisi La Liga yang digelar Minggu (10/1/2010).
Membela Barcelona dalam melawan Tenerife adalah suatu kebanggan buat Pedro. Sebab, pemain yang merupakan putra asli Tenerife telah membuktikan bahwa impiannya sebagai pemain sepakbola telah tercapai dengan bergabung bersama klub besar seperti Barcelona.
Barcelona yang datang dengan tuntutan wajib menang atas Tenerife membuat Pedro mengalami dilema. Striker yang sejauh ini telah mencetak 13 gol untuk Barcelona itu bertekad untuk tidak melakukan selebrasi andai dirinya mencetak gol ke gawang Los Blanquiazules.
"Jika saya mencetak sebuah gol, saya tidak akan melakukan selebrasi untuk menghormati orang-orang dari Tenerife yang telah mendukung saya. Meskipun saya tidak pernah bermain untuk klub itu, mereka selalu memperlakukan saya dengan sangat baik," tegas pemain bernama lengkap Pedro Ledesma Rodriguez itu seperti dikutip Yahoosports.
"Ini bagaikan mimpi untuk saya kembali ke sana (Tenerife) dengan mengenakan seragam Barca. Saat saya kecil, saya tidak pernah membayangkan hal ini," tutup pemain yang sering disapa Pedrito itu.
Tuan Rumah Piala Dunia 2022, Masihkah Realistis?
Jakarta - PSSI mengusung harapan tinggi saat mengajukan diri sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2022. Tapi jika prestasi sepakbola nasional saja masih sangat buruk, masihkah keinginan tersebut realistis?
Menjadi tuan rumah Piala Dunia jelas jadi kebangaan besar buat semua negara di dunia, termasuk di dalamnya Indonesia. Jadi sesungguhnya tak ada yang salah saat PSSI tahun lalu ikut mendaftarkan diri ke FIFA untuk bisa dimasukkan sebagai salah satu kandidat tuan rumah Piala Dunia 2022.
Tapi kalau ada beberapa pihak yang kemudian mempertanyakan keinginan, yang kemudian dianggap sangat sambisius tersebut, itu karena memang ada sebab yang mendasari. Masalah infrastruktur misalnya. Kita tahu hanya ada beberapa gelintir stadion bertaraf internasional di Indonesia.
Perkara lain yang dianggap cukup menentukan layak atau tidaknya kita menggelar Piala Dunia adalah soal prestasi. Memang tak ada aturan FIFA yang menyebut tuan rumah Piala Dunia harus berada dalam ranking tertentu. Tapi kalau di level Asia Tenggara saja kita tidak bisa apa-apa, entah apa nantinya pandangan dunia - dan negara tetangga kita.
Begitulah faktanya, jangankan berprestasi di tingkat dunia atau Asia. Di Asia Tenggara saja kita seperti tak dipandang lagi. SEA Games 2009 lalu jadi acuan nyata soal daya saing kita di antara negara-negara tetangga serumpun.
Timnas U-23 yang dipercaya terjun di tak bisa berbuat apa-apa dan cuma bisa jadi penghuni juru kunci babak fase grup dengan satu poin. Pasukan 'Merah Putih' pulang dengan wajah tercoreng setelah cuma bermain imbang dengan Singapura dan kalah atas Myanmar dan Laos, dua negara yang sebelumnya selalu berada di bawah Indonesia.
Peristiwa pahit di penghujung 2009 itu sayangnya berlanjut di awal 2010. Trandisi lolos ke putaran final Piala Asia yang sudah dibentuk sejak 1996 hilang. Kalah 1-2 atas Oman di kandang sendiri, skuad besutan Benny Dollo dipastikan jadi juru kunci klasemen Grup B kualifikasi Piala Asia 2011.
Jika sudah seperti ini, pertanyaan akan keseriusan menjadi tuan rumah Piala Dunia rasanya tak salah jika kembali mengemuka.
"Saat pertama mencanangkan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2022, kita waktu itu berharap itu bisa menjadi motivator untuk meningkatkan prestasi sepakbola dalam negeri. Tapi sepakbola Indonesia di awal tahun ini justru tak menunjukkan tanda ke arah situ," sahut mantan menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, saat dihubungi detiksport, Jumat (8/1/2009) siang WIB.
Adhyaksa juga mengingatkan PSSI kalau prestasi sepakbola nasional adalah faktor penting untuk bisa mewujudkan keinginan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Bukan hanya perkara menyelamatkan wajah Indonesia di kancah internasional, tapi terkait dukungan yang mungkin datang dari publik dalam negeri.
"Keinginan menjadi tuan rumah Piala Dunia harus juga diimbangi dengan prestasi. Kalau tidak maka tidak akan dapat dukungan dari masyarakat," pungkas Adhyaksa.
Dihitung dari sekarang, Piala Dunia 2022 masih 12 tahun di depan. Masih banyak waktu buat PSSI melakukan perbaikan demi meningkatkan prestasi. Untuk bisa mewujudkan itu semua, otoritas sepakbola Indonesia itu jelas harus mulai melakukan banyak perubahan. Dimulai sekarang juga!
Gagal ke Piala Asia, PSSI Minta Maaf
Jakarta - Untuk kali pertama sejak 1996 Indonesia gagal lolos ke putaran final Piala Asia. Kehilangan tradisi membanggakan mendorong PSSI mengajukan permintaan maaf.
"Harus diakui lawan-lawan yang kita hadapi pada PPA 2011 sangatlah berat. Australia, Oman, Kuwait bukanlah tim sembarangan. Momen ini sangat berat untuk dilalui. Kami minta maaf atas kegagalan Indonesia," ungkap Andi Darusalam pada wartawan.
Indonesia dipastikan gagal lolos ke Piala Asia 2011 setelah pada Rabu (6/1/2010) malam menderita kekalahan saat menjamu Oman dengan skor 1-2. Hasil itu menempatkan anak asuh Benny Dollo di posisi juru kunci klasemen Grup B dengan nilai tiga.
Dari lima pertandingan yang sudah dijalani, Bambang Pamungkas dkk meraih tiga hasil imbang dan dua kali kalah. Laga terakhir kontra Australia di Maret mendatang sudah tak berarti apapun buat pasukan 'Merah Putih'.
Kegagalan ini jelas menjadi kekecewaan besar buat sepakbola tanah air mengingat Indonesia masih minus prestasi di ajang internasional. Apalagi Piala Asia sudah menjadi turnamen paling bergengsi yang bisa diikuti bangsa ini sejak 1996 lalu.
"Kami jelas kecewa dengan hasil ini. Indonesia gagal mempertahankan tradisi lolos ke putaran final Piala Asia adalah mimpi buruk. Hanya saja, kekecewaan ini jangan sampai terlalu lama. Kami harus menata rencana ke depan untuk bangkit dari keterpurukan," lanjut Andi.
Dilanjutkan Andi, evaluasi terhadap penampilan timnas akan dilakukan pada awal pekan depan. Sementara soal kekalahan yang diderita atas Oman, Andi menyalahkan pelatnas yang kurang maksimal dan durasinya yang terlalu singkat.
"Timnas butuh kebersamaan lebih lama. Pelatnas kemarin harus diakui tidak maksimal. Banyak pemain cedera. Ada pula pemain yang datang terlambat. Tapi, permasalahan sebenarnya adalah timnas butuh pelatnas lebih panjang jika ingin meraih hasil maksimal," demikian pungkasnya.







