Jakarta - Dari bola plastik kini jadi bola emas. Mungkin itu gambaran tepat untuk perjalanan karir Samsul Arif. Jika dulu ia bukan siapa-siapa, kini ia siap menjelma menjadi salah satu striker hebat di persepakbolaan nasional.
Mungkin sebelum perhelatan Copa Indonesia musim lalu tak banyak yang mengetahui sosok seorang Samsul. Wajar saja, karena baru pada medio 2008 ia memainkan si kulit bundar secara profesional di klub divisi utama Persibo Bojonegoro.
Walaupun demikian, Samsul bersama Persibo berhasil membuat kejutan di mana mereka mampu menembus hingga babak delapan besar Copa Indonesia lalu, sebelum akhirnya dihentikan Sriwijaya FC, yang akhirnya menjadi kampiun copa. Dalam perjalanannya, Persibo berhasil menyingkirkan dua klub besar Indonesian Super League; Arema Malang dan Pelita Jaya Jawa Barat.
Tak hanya membuat sensasi bersama klubnya, Samsul pun turut mengukirkan namanya di jajaran top skor Copa Indonesia bersama Pablo Frances (Persijap Jepara)
dengan raihan delapan gol. Maka tak salah jika Gelar Best striker pantas disematkan pada pemuda kelahiran 14 Januari 1985 ini, mengalahkan nama-nama lawas seperti Boaz Solossa, Pablo Frances, Beto Goncalves dan Anaoure Obiora.
"Saya tidak menyangka saya bisa mendapat penghargaan ini. Syukur Alhamdulillah saya dipilih," ucap Samsul di acara Anugerah Bintang Emas Copa, Hotel Mulia,
Senayan, Jakarta, Jumat(14/7/2009)
Maka dari itu, Samsul mengibaratkan ini sebagai anugerah yang tak terkira dari Tuhan yang diberikan kepadanya. Apalagi dituturkan karena keterbatasan dana yang dimiliki, ia hanya bisa berlatih di pelataran rumahnya dengan menggunakan bola plastik. Dan hebatnya, ia tak pernah sekalipun mengecap sekolah sepakbola (SSB) seperti layaknya pesepakbola seusianya.
"Empat tahun lalu saya masih main bola plastik di samping rumah. Sekarang saya sudah bisa mendapat penghargaan ini, sungguh luar biasa. Ini merupakan pijakan penting untuk karir saya," urai pemain bertinggi 166 cm dan berat 59 kg.
Dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada figur-figur yang telah mendukungnya selama ini."Saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan tim di Persiob Bojonegoro, para fans Persibo dan khususnya pelatih Sartono Anwar."
Lalu apakah mimpi Samsul selanjutnya? Bagi pemuda yang musim depan akan membela Persela Lamongan di kancah ISL ini, sebuah tempat di timnas Indonesia adalah impian selanjutnya layaknya pesepakbola lainnya di Indonesia.
"Kalau soal timnas, saya sih pengen bisa dipanggil. Siapa sih yang tidak mau bermain bagi negaranya? Namun bagi saya yang terpenting adalah membuktikan kemampuan saya dulu di ISL musim depan dengan mencetak banyak gol, barulah berpikir timnas. Tapi rasanya saya juga harus lebih banyak latihan untuk tampil lebih baik lagi," tuntas penggemar Juventus dan Alessandro Del Piero ini.
Samsul Arif Dari Bola Plastik ke Bola Emas
'Itu Salah Kalian Sendiri, Irlandia'
Dublin - Eks pemain nasional Irlandia Roy Keane berpandangan berbeda tentang kegagalan Irlandia lolos ke Piala Dunia. Alih-alih menuding handball sebagai biang kegagalan, Keane memilih menyalahkan Irlandia.
Langkah The Boys in Green, julukan Irlandia, ke Afrika Selatan kandas usai dikandaskan Prancis dengan agregat 1-2 dalam laga playoff. Di leg pertama di Dublin, Irlandia takluk 0-1. Sedang leg kedua di Paris tim asuhan Giovanni Trapattoni ditahan imbang 1-1.
Terjadi kontroversi di laga kedua, di mana gol Prancis yang dicetak oleh William Gallas didahului oleh handball Thierry Henry. Tak pelak aksi Henry pun menimbulkan perdebatan.
Irlandia menunjuk handball sebagai sumber utama kegagalan mereka. Tindakan ini justru membuat Keane kecewa. "Irlandia memang bisa mengeluhkan apa pun yang mereka mau. Tapi faktanya Prancis-lah yang melaju ke Piala Dunia," demikian ujar mantan pemain Manchester United itu dilansir dari BBC.
"Bila saat pertandingan itu saya ada di ruang ganti, maka saya tidak akan bicara soal handball. Saya lebih memilih menyoroti kinerja para pemain bertahan yang seharusnya bisa mengantisipasi bola yang datang ke kotak penalti," lanjut Keane.
Pemilik 65 caps untuk Irlandia itu mengecam para pemain negaranya sendiri. "Saya lebih terganggu dengan antisipasi yang dilakukan kiper dan bek kami dibanding aksi Thierry Henry. Sebab, bagaimana bisa mereka membiarkan ada bola bergulir di kotak penalti? Bagaimana bisa mereka membiarkan Thierry Henry ada di kotak penalti? Ketika bola menuju kotak enam yard, lalu ke apa yang dilakukan kiper kami?" seru Keane.
Kecaman manajer klub Inggris Ipswich itu masih belum berhenti. "Irlandia punya kesempatan dalam dua laga dan mereka tak menggunakanya. Namun inilah yang biasa dilakukan asosiasi sepakbola Irlandia (FAI). Mereka selalu bereaksi: 'Kami dirampok, kami dicurangi'. Ucapan itu semua tak berguna," lanjut Keane.
Bahkan penghuni timnas Irlandia tahun 1991-2005 itu sedikit "membongkar borok" negerinya di waktu lalu. Kejadiannya di babak grup kualifikasi Piala Dunia 2010 melawan Georgia.
Dalam laga yang digelar Februari silam, The Boys in Green sempat ketinggalan 0-1 sejak menit pertama. Irlandia baru mencetak gol penyama di menit ke-73 lewat penalti Robbie Keane. Lima menit berselang pemain yang kini membela Tottenham Hotspur itu memastikan kemenangan 2-1.
"Ada satu laga melawan Georgia di mana Irlandia dapat penalti. Menurut saya itu merupakan keputusan wasit yang terburuk yang pernah saya lihat, dan itu mengubah hasil akhir. Saya tak ingat apa yang dikatakan FAI ketika itu. Mungkin kita harus memberi mereka tayangan ulangnya," tuntas Keane.









